Rahasia Rossi Selama 20 Tahun
Rahasia Rossi Selama 20 Tahun Dunia balap motor kelas dunia kembali guncang karena pengakuan mengejutkan dari mantan pebalap asal Spanyol, Sete Gibernau. Setelah menyimpan cerita ini selama dua dekade, Gibernau akhirnya memutuskan untuk membuka suara mengenai sisi gelap persaingannya dengan sang legenda. Ia mengungkapkan bahwa terdapat tindakan yang tidak sportif demi meraih kemenangan di lintasan balap. Meskipun mereka berdua pernah menjadi rival utama, banyak fakta yang selama ini tertutup rapat dari jangkauan publik dan media massa.
Baca juga: Rahasia Teknologi Pabrik Mobil Listrik
Ungkapan Kekecewaan Sang Rival Utama
Sete Gibernau menjelaskan pengalaman pahitnya saat bersaing ketat pada musim balap tahun 2003 dan 2004. Pada periode tersebut, pebalap Spanyol ini harus puas menempati posisi kedua secara berturut-turut di klasemen akhir. Meskipun awalnya ia memilih diam, namun rasa tidak nyaman membuatnya harus membeberkan kenyataan tersebut sekarang. Menurutnya, publik perlu mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di balik layar kompetisi yang sangat kompetitif itu.
Awalnya, Gibernau berniat menyimpan rahasia ini selamanya demi menjaga nama baik olahraga tersebut. Namun, seiring berjalannya waktu, ia merasa momen saat ini adalah waktu yang paling tepat untuk berbicara. Ia menegaskan bahwa pengungkapan ini bukan untuk menjatuhkan, melainkan untuk menegakkan nilai kejujuran dalam olahraga motor. Oleh karena itu, testimoni ini menjadi sorotan utama bagi para penggemar otomotif di seluruh penjuru dunia.
Insiden Kontroversial di Tikungan Terakhir
Salah satu momen paling krusial yang ia soroti adalah kejadian dramatis pada musim 2005 di lintasan Jerez. Gibernau secara gamblang menuduh rivalnya tersebut sengaja menabrak dirinya saat berada di tikungan penutup perlombaan. Akibat insiden tersebut, ia terpaksa keluar dari lintasan dan kehilangan peluang emas untuk meraih podium utama. Hal yang membuatnya sangat kecewa adalah absennya hukuman atau penalti dari pihak penyelenggara terhadap tindakan agresif tersebut.
Selanjutnya, kejadian ini mengubah pandangan Gibernau terhadap integritas kompetisi yang ia jalani. Ia merasa bahwa aturan olahraga seolah-olah tidak berlaku bagi pebalap tertentu yang memiliki popularitas tinggi. Kepercayaan dirinya terhadap keadilan dalam balapan mulai luntur sejak peristiwa di Jerez tersebut. Ia tidak memahami mengapa kontak fisik yang membahayakan bisa dianggap legal dalam sebuah perlombaan profesional yang menjunjung tinggi keselamatan.
Standar Ganda Bagi Bintang Besar
Gibernau mengakui bahwa lawannya adalah salah satu pebalap terbaik sepanjang sejarah dengan jutaan penggemar setia. Namun, ia menyayangkan mengapa sosok hebat seperti itu masih perlu menggunakan metode yang ia anggap kurang terpuji. Menurut pengamatannya, pebalap dengan status megabintang seolah mendapatkan perlakuan istimewa dari otoritas balap. Hal ini menciptakan kesan bahwa hukuman hanya berlaku efektif bagi pebalap yang tidak memiliki pengaruh besar secara komersial.
Selain itu, ia berpendapat bahwa tindakan kotor seharusnya tidak mendapatkan ruang, siapapun pelakunya. Meskipun tekanan dalam balapan sangat tinggi, sportivitas harus tetap menjadi prioritas utama di atas segalanya. Ia merasa heran mengapa tindakan tersebut justru diterima dan dibiarkan tanpa adanya teguran resmi saat itu. Dengan mengungkap fakta ini, Gibernau berharap standar keadilan dalam dunia balap di masa depan bisa menjadi lebih merata bagi semua atlet.